Selasa, 29 Oktober 2013

MENUJU KELUARGA SAKIHAH ( 1 )


SALING MEMAHAMI KEKURANGAN DAN BERUSAHA MENYEMPURNAKANNYA


“ Dalam memahami perselisihan dan masalah dalam berumah tangga, baik masalah yang ringan atau yang berat pastilah semuanya bermuara pada kesadaran masing – masing pribadi untuk menyelaikannya”. Menyadari hal tersebut, maka untuk mengantisipasi permasalahan – permasalahn tersebut adalah dengan mengamalkan nilai – nilai agama, saling memahami kekurangan masing – masing dan berusaha untuk menyempurnakannya”.
Dalam berumah tangga, kita harus memgang prinsip disiplin dan bertanggung jawab. Suatu keharusan yang diterapkan  dalam kehidupan berumah tangga sehari – hari, baik disiplin dalam waktu, disiplin dalam menggunakan anggaran rumah tangga dan disiplin dalam hal pendidikan anak.
Semua orang dalam berumah tangga pasti diterpa oleh permasalahan – permasalahn kehidupan ( masalah yang berat dan yang ringan,  masalah yang bisa dan tidak bisa diselesaikan ), untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan senantiasa mengamalkan nilai – nilai agama kehidupan keseharian juga saling memahami akan kekurangan orang lain dan berusaha untuk mengerti dan menyempurnakannya.
Dengan memahami akan semua kekurangan yang ada, maka kita akan terhindar dari penyakit “ Power Sindrome” atau merasa paling kuat dan paling benar dan menganggap orang lain bersalah. Dengan pemahaman tersebut, maka akan timbul rasa saling menghormati antar sesame anggota keluarga. Maka, jika suatu saat terjadi perselisihan, masing – masing pihak dalam lingkungan keluarga akan mempunyai keinginan dan usaha yang sama untuk menyelesaikannya melalui jaln musyawarah keluarga,
Biasanya besarnya suatu masalah dalam keluarga timbul karena dibesar besarkan, karenanya apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, harus diupayakan diminimalisir agar masalah tersebut tidak membesar, bahkan kalau mungkin ( harus diusahakan ) segala hal yang dapat menimbulkan perselisihan sebisa mungkin untuk dijahui “ Sadari bahwa segala kebaikan yang  diterima dari suami atau isteri adalah lebih besar daripada kesalahan yang dibuatnya”. Dan kalau pada waktu itu itu sempat berbuat salah, harus dipahami mungkin dia bertujuan baik dan benar namun kemampuannya Cuma sampai disitu dan yng lain harus membenarkan dan menyempurnakannya. Oleh karena itu jika dalam berumah tangga kita dihadapkan pada permasalahan – permasalahan yang mengarah pada konflik maka harus kita sikapi dengan tawassut, qanaah, sabar, transparan dan bersyukur. Saling mawas diri akan segala kekurangan dan kelemahan kita masing – masing dan juga memahami bisa memahami akan kesalahan dan kekurangan orang lain, secara religi mungkin kita bisa saling memaafkan dan mengambil air wudlu’ untuk kemudian shalat hajat bersamaah  untuk meminta pertolongan agar diberikan jalan terbaik oleh Allah SWT. Salah satu cara untuk bisa memahami kekurangan orang lain adalah bisa dengan mengadakan kegiatan – kegiatan keluarga yang melibatkan seluruh anggota keluarga dan bersifat santai, misalnya dengan mengkondisikan seluruh anggota keluarga untuk piknik atau berwisata bersama – sama.
Untuk memahami kekurangan orang lain dan menyempurnakannya, setidaknya kita harus memegang 4 prinsip keilmuan, yaitu:
يدر أنه يدر ,     (Mengetahui, menyadari bahwa dirinya tahu), yaitu orang harus paham dan mengerti bahwa dirinya memang mengerti dan mengetahui tentang permasalahan yang sedang di hadapi
يدرأنه لآيدر,   (Mengetahui atau menyadari bahwa dirinya memang tidak mengetahui permasalahan yang terjadi), sehingga ia tidak sok tahu, dan tidak ngawur dalam mencari solusinya.
لايدرأنه يدر,    (Tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa dirinya paham atau tahu akan masalah yang ia hadapi), sehingga ia akan bersikap apatis dan masa bodoh, sehingga dia pura – pura tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, padahal ia mengetahuinya.
لايدرأنه لايدر,  (Tidak menyadari bahwa dirinya memang tidak mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi), jadinya ia akan sok tahu dan berusaha menyelesaikan semua permasalahan dengan asal dan ngawur, karene ia memang tidak mengetahui akar permasalahannya.

MENUJU KELUARGA SAKIHAH ( 2 )


SENANTIASA MENSUKURI NIKMAT ALLAH SWT


Dalam menghadapi kehidupan nyata setiap hari, setiap manusia pasti dituntut untuk selalu beraktifitas ( yang bisa menghasilkan ), bersifat provit untuk menunjang kehidupan keluarganya. Terutama untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan yang bersifat prinsipil, seperti untuk mencari sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal). Namun demikian sesibuk apapun pasangan suami isteri dalam kesehariannya, tetap harus mengingat dan menjaga amanat Allah yang dititipkan kepadanya yaitu anak anak mereka. Karena apa dan bagaimanapun kesibukan yang mereka lakukan setiap hari, bagi orang yang berfkir normal pasti tujuannya untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan semua anggota keluarganya. Untuk mewujudkan tatanan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, memang membutuhkan proses yang panjang dan lama untuk itu dibutuhkan kesabaran dan juga menentukan sejara jelas tentang visi dan misi keluarga. Yaitu berusaha untuk menjadi individu yang berguna dan bermanfaat untuk anggota keluarga yang lain juga untuk masyarakat sekitarnya.
Dan salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mencapai visi dan misi rumah tangga yang telah dicanangkan adalah dengan senantiasa mensyukuri setiap nikmat Allah SWT yang telah diterimanya.
لئن شكرتم لأزيدنكم  ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
“ Jika kalian bersyukur Niscaya aku  ( Allah ) akan menambah nikmat kepada kalian, tetapi jika kalian ingkar ( kufur nikmat ) sesungguhnya adzab ( siksa ) ku teramat pedih.
Dari situ bisa kita ambil hikmah syar’iyah, bahwa kenikmatan dan kebahagiaan yang selama ini kita rasakan sesungguhnya adalah pemberian allah SWT yang harus kita syukuri dan harus kita lestarikan, karena Allah sudah berjanji akan semakin menambah mencurahkan nikmatnya, namun jika kita menhinhkarinya maka allah akan menyiksa kita.
1.       Menambah Nikmat
Allah sudah berjanji akan menabah nikmatnya jika kita pandai bersyukur, pandai bersyukur disini berarti, kita dianjurkan untuk mengarahkan segala nikmat yang telah kita peroleh ke jalan yang benar – benar di ridloi Allah SWT. Misalnya: Nikmat kesehatan, maka kita harus bisa memanfaatkan tubuh kita selama masih sehat untuk sesuatu yang diridloi Allah seprti Rajin beribadah, Rajin membentu orang dan lain – lain. Begitu juga dengan nikmat yang kita terima berupa harta benda, maka kita gunakan untuk mencari ridlo Allah SWT seperti memperbanyak melaksanakan ibadah haji, memperbanyak shadaqah, membayar zakat dan lain – lain. Begitu juga dengan nikmat dalam berkeluarga, yang didambakannya adalah memiliki keturunan, maka jika dalam berkeluarga kita sudah dikarunai keturunan oleh Allah SWT, maka kita harus bisa mendidik dan mengarahkannya di jalan Allah, misalnya dengan menyekolahkannya, atau mengirimkannya ke dunia Pesantren untuk belajar Ilmu Agama.
2.       Mengadzab
Sebaliknya, jika kita sama sekali tidak bisa mensyukurinya atau mengingkarinya bahkan menyia – nyiakannya, maka Allah SWT akan menyiksa dan mengadzab kita. Misalnya kita memperoleh rezeki berupa harta yang banyak dan tidak menjaganya dan membelanjakannya dijalan Allah SWT, maka jangan heran dan jangan terkejut jika harta tersebut dicabut lagi oleh Allah SWT di kemudian hari dengan jalan yang bermacam – macam, misalnya melalui kecopetan, kerampokan, kena penipuan dan lain – lain. Begitu pula jika misalnya kita tidak bersyukur atas kelahiran anak – anak dalam arti tidak bisa mengemben dan mendidiknya, maka tidak usah terkejut jika suatu saat nanti anak – anak itu akan melakukan perbuatan yang memalukan kita, atau kalupun tidak mereka mungkin akan melupakan kita dan yang lebih lagi mungkin juga mereka akan terus menerus dendam kepada kita.

“ Berusaha, Berdo’a, Bersyukur dan Tawakkal” itulah yang harus kita lakukan dalam mencari nikmat Allah SWT dan membelanjakan serta memanfaatkannya kemudian”.

Senin, 28 Oktober 2013

LANGKAH UNTUK MEWUJUDKAN KELUARGA YANG BAHAGIA (Pertama)



Setiap Orang yang berkeinginan untuk menikah atau berumah tangga, sebagai manusia normal pasti menginginkan untuk membentuk tatanan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Namun tidaklah mudah untuk mencapainya, melainkan dibutuhkan usaha dan komitmen dari masing – masing pasangan, karena menikah pada hakikatnya adalah menyatukan dua manusia yang berlainan jenis dan berbeda kepribadian. Setidaknya dengan usaha yang maksimal disertai dengan berdo’a yang tiada henti, tentunya Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita dan keluarga.
Ada beberapa komitmen yang perlu diperhatikan, yang jika kita bisa menjalankan dan menjaganya, insyaallah akan mampu untuk mencapainya, hal tersebut adalah:
Taqwa
 Pastinya keluarga kalau tanpa didasari laandasan agama yang kuat yang akan mudah goyang, bahtera rumah tangga. terutama suami yang harus bisa membimbing istri, karena suami itu layakna nahkoda dalam bahtera rumahtangga, dia selaku imam harus bisa memimpin sang istri.  Dengan bertaqwa, maka Allah SWT akan memberikan jalan keluar bagi kita jika keluarga kita dalam perjalananya menghadapi masalah.
Tafahhum atau saling memahami
Saling memahami satu sama lainya. tidak egois, kalo suami capek habis kerja, istri juga harus tau apa yang harus di kerjakan. kalo kosmetiknya istri habis suami kudu ngerti pula harus gimana? suami pengen ehm ----- tapi istri berhalangan, ya gak boleh marah, dst. kalo gitu makan kehidupan bisa akan rukun dan tidak ada  pertengkaran. Memang, saling memahami sangat dibutuhkan dalam berkeluarga, karena berkeluarga pada dasarnya menyatukan dua orang yang berbeda jenis, beda tingkat emosionalnya dan mungkin berbeda segalanya.
Ta'arruf atau saling mengenali
Seorang suami musti dan harus mengetahui semua tentang sang istri, sang istri pun sebaliknya, harus mengerti apa sih kesukaannya istri, apa sih kesukaannya suami? apa yang gag disuka, bagaimana kebiasaan keduanya dsb. Kalo bisa saling mengenal dan mengerti kekurangan satu dan lainya isyaAllah akan langgeng. Terutama, sebelum menginjak pada pernikahan (di masa khitbah) atau pertunangan seharusnya pasangan berusaha untuk saling mengenal kepribadian masing – masing.
Tabassum atau senyum
Senyum adalah hal yang kecil mempunyai dampak yang besar, beda rasanya ketika seorang istri itu memberikan sesuatu ke suaminya secara biasa saja dengan disertai dengan senyuman. ketika si istri ngasih kopi ke mamasnya "mas ini kopinya ! (sambil senyum)" pasti senengnya bukan kepalang sambil bilang dihati "alhamdulillah punya istri sebaik ini". keep smile. apalagi pas ngomong bilangnya pake bahasa halus. adem dengernya.
Takarrum atau saling menghormat
 Akhlak adalah hal yang paling penting dalam berperilaku termasuk dalam berkeluarga, termasuk didalammnya saling menghormati,istri menghormati suami sebagai pemimpin dan imam dalam hidupnya, suami menghormati istri sebagai pendamping hidupnya dikala suka ataupun duka.
Tasammuh atau toleransi
dalam kehidupan pasti ada perbedaan, termasuk dalam berkeluarga, antara suami dengan istri ataupun antara keluarga suami dan keluarga istri. dan sikap toleransi. apalagi pada masalah yang krusial seperti gara-gara perbedaan organisasi keagamaan. misal antara si hijau dan biru atau lainya. makanya saling toleransi itu penting.
Tala' 'ub atau saling bersenda gurau
 Adanya canda dan tawa dalam kehidupan berumah tangga lazim selalu dilakukan. Tak baik kalo dalam berkeluarga adanya seriuss mulu, harus diselingi dengan canda dan tawa. saling bergurau, bercengkerama, tanpa itu semua rumah mungkin akan sepi sekali dan tak ada gairah.  
Yang jelas untuk menerapkan beberapa hal tersebut, masing – masing pasangan juga harus mempunyai komitmen dan tujuan yang sama yaitu “Menggapai Ridlo Allah SWT” dan jangan lupa dalam penerapannya masing – masing harus melihat peluang dengan tanpa mengesampingkan faktor situasi dan kondisi keluarganya. Wassalam….

LANGKAH UNTUK MEWUJUDKAN KELUARGA YANG BAHAGIA (Ke Dua)


Setiap manusia selalu menginginkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah, untuk itu apa saja sih yang harus dilakukan untuk mencapai keluarga yang di impikan. ikuti yuk tips dari keluargasakina ini :
1. Jangan Melihat ke Belakang
Setiap orang pasti memiliki masa lalu baik yang bagus maupun yang kelam. Termasuk pasangan. Di masa lalu pun mungkin ada sepenggal kisah tak mengenakkan yang pernah mewarnai rumah tangga.
Jika tak ingin terseret dalam arus negatif, lupakan hal-hal buruk yang pernah terjadi. Sambutlah masa depan dengan senyuman. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan berhak untuk menjadi lebih baik.
Termasuk, jangan mengingat-ingat lagi mantan orang yang dicintai saat belum menikah dulu. Tidak ada gunanya dan hanya menghalangi kebahagiaan untuk hadir dalam kehidupan Bunda dan Sista.
2. Selalu Berpikir Objektif
Saat kalut menghadapi suatu hal, kadang kala pikiran jadi ruwet dan segalanya tampak suram. Ini terjadi jika Bunda dan Sista ikut terpancing secara emosional. Padahal, masalah apapun itu, termasuk konflik dengan suami maupun anak-anak, membutuhkan pikiran yang jernih untuk menyelesaikannya.
Apalagi jika muncul pihak ketiga yang berusaha memprovokasi. Beri jeda waktu agar pikiran menjadi dingin dan lepas dari segala beban emosional. Setelah merasa tenang, barulah mencari solusi diawali dengan saling mendengarkan antara kedua pihak.
3. Saling Percaya
Kunci dari sebuah hubungan adalah rasa percaya. Tanpa rasa saling percaya , kehidupan rumah tangga tentu tak akan berjalan mulus. Rasa aman, nyaman, tenteram yang menjadi salah satu tujuan pernikahan tidak akan muncul. Bagaimana bisa tenang kalau Bunda dan Sista selalu gelisah, curiga dan khawatir memikirkan sedang apa si dia di luar sana? Jangan-jangan dia ketemu sama klien yang cantik bukan main, jangan-jangan dia melihat seseorang yang lebih solehah dan memnadingkannya dengan kita. Begitu pula jika suami berlaku demikian. Kuncinya, selalu khusnudzan dan jangan sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami.
4. Kebutuhan Seks
Perkawinan tanpa seks bisa dibilang seperti sayur tanpa garam. Hambar. Ya, seks memang perlu. Dan meski aktivitas seks sebetulnya bertujuan untuk memperoleh keturunan, namun manusia perlu juga mengembangkan seks untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan hidupnya.
Prinsip hubungan seks yang baik adalah adanya keterbukaan dan kejujuran dalam mengungkapkan kebutuhan Anda masing-masing. Intinya, kegiatan seks adalah untuk saling memuaskan, namun perlu dihindari adanya kesan mengeksploitasi pasangan. Kegiatan seks yang menyenangkan akan memberikan dampak positif bagi Bunda/Sista dan suami.

5. Hindari Pihak Ketiga
Setelah ijab qabul terucap dan sah menjadi pasangan suami-istri, dalam tatanan masyarakat Bunda/Sista telah diperhitungkan sebagai seorang ratu rumah tangga dari keluarga yang dipimpin oleh suami. Saat ada urusan bermasyarakat, tak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga lama tapi telah menjadi kelompok tersendiri. Maka ketika timbul permasalahan, selesaikanlah berdua saja. Tentunya suami-istri lebih banyak mengetahui keadaan dan arah rumah tangga ke depan. Tak perlulah melibatkan orang lain.
Banyak cerita tentang membesarnya konflik justru setelah pihak ketiga terlibat maupun sengaja dilibatkan, entah itu mertua, saudara ipar, tetangga, dan sebagainya.
Kalau pun ingin mendapat nasehat atau memiliki sudut pandang yang berbeda, maka mintalah pada seseorang yang sudah teruji pengalaman hidupnya, yang telah diketahui baik akhlaknya dan yang kemungkinan tidak akan melibatkan emosi pribadi dalam memberikan nasehat.
6. Menjaga Romantisme
Terkadang, pasangan  yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak lagi peduli pada soal yang satu ini. Padahal, menjaga romantisme dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda. Tentu, ujung-ujungnya pasangan suami-istri akan merasa semakin erat dan saling membutuhkan.
Meski sepele, pujian atau perhatian sangat besar pengaruhnya bagi suami lho, dan sebaliknya. Memberikan pujian ringan seperti “Masakan Mama hari ini luar biasa, lho!” atau “Wah, Papa tambah keren pakai dasi itu.” Ucapan-ucapan sepele seperti itu akan memberikan dorongan/semangat yang luar biasa. Pasangan Anda pun akan merasa dihargai.
7. Selalu Utamakan Komunikasi
Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar rumah tanga. Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya ngobrol-ngobrol saja. Komunikasi beda lho sama gantian bicara. Coba ingat-ingat deh Bunda/Sista, saat pernah mengalami masalah rumah tangga, yang dilakukan bersama suami saat itu komunikasi atau gantian bicara?
Komunikasi ini dimaksudkan untuk saling mengerti. So, lepaskan hal-hal berbau prasangka dan emosi. Menjaga komunikasi bisa diawali dengan kebiasaan ngobrol dan duduk bersama. Sampaikan apa yang Bunda/Sista merasa perlu diketahui suami atau anak. Buat iklim rumah tangga menjadi terbuka sehingga tidak ada anggota keluarga yang merasa tidak didengarkan.
8. Jaga Spiritualitas Rumah Tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.
Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah SWT. Sertakan rasa baik sangka kepada Allah SWT. Tataplah hikmah d balik setiap masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.